HYDROSTATIC AND BONJEAN CURVE

II.1 Kurva Hidrostatis
Kurva Hidrostatic adalah kurva-kurva yang menjelaskan bentuk dan sifat karakteristik dari badan kapal yang berada di bawah garis air sampai muatan penuh dalam air laut ataupun air tawar. Dalam kurva Hidrostatic tersebut terdapat sembilan belas kurva antara lain adalah:

1. Displacement Moulded dan Displacement extrim (termasuk kulit) (ton)
2. Luas bidang midship, luas bidang garis air dan luas permukaan basah (MSA), (WPA) dan (WSA) dengan satuan m2.
3. Koefisien midship, koefisien garis air, koefisien blok dan koefisien prismatik memanjang dengan notasi Cm, Cw, Cb dan Cp (tanpa satuan).
4. Jarak titik pusat bouyancy terhadap midship dan dasar kapal, dengan notasi FB dan KB (m).
5. Jarak titik luasan bidang garis air terhadap midship, dengan notasi FF (m).
6. Jari-jari metacentra melintang dan memanjang, dengan notasi TBM dan LBM (m).
7. Tinggi metacentra terhadap dasar kapal, dengan notasi TKM dan LKM (m).
8. Ton per centimeter, dengan notasi TPC (ton).
9. Displacement due trim one centimeter, dengan notasi DDT (ton).
10. Moment to change trim centimeter, dengan notasi MCT (ton m).
Penjelasan Kurva-Kurva Hidrostatic
II.2 Lengkung Bonjean

Yang dimaksud dengan lengkung bonjean adalah lengkung yang menunjukkan luas station sebagai fungsi sarat. Bentuk lengkungan ini mula-mula diperkenalkan pada abad kesembilan belas oleh seorang sarjana Prancis yang bernama Bonjean.
Jadi untuk mengetahui luas dari station sampai tinggi sarat T, dapat dibaca dari gambar lengkung bonjean pada ketinggian sarat T yang sama

dengan menarik garis mendatar hingga memotong lengkung bonjean. Pada umumnya lengkung bonjean digambar sampai setinggi geladak tepi kapal pada setiap station sepanjang kapal.

Bentuk-bentuk Lengkung Bonjean :
1. Garis Lurus
Apabila lengkung bonjean berbentuk garis lurus, hal tersebut menandakan bahwa bentuk station atau penampang kapal berbentuk segiempat. Jadi pertambahan luas tiap sarat air yang sama selalu konstan.
2. Parabola
Ini adalah bentuk station atau penampang segitiga atau melengkung.
3. Parabola diikuti Garis Lurus
Hal tersebut menandakan bahwa bentuk station atau penampang kapal bagian bawah melengkung kemudian atasnya lurus ke atas. Jadi pada awalnya pertambahan luasnya tidak konstan tetapi kemudian pertambhan luasnya konstan .

Fungsi Lengkung Bonjean
Fungsi lengkung bonjean adalah untuk mendapatkan volume displacemen even keelataupun kapal pada saat dalam keadan trim dan juga kapal pada saat terkena gelombang.
Untuk kegunaan selanjutnya lengkung bonjean dipergunakan untuk menghitung atau membuat lengkung kebocoran.

III.1TABEL A
Tabel A dan Tabel B merupakan tabel perhitungan untuk mainpart.

Tabel A dibuat untuk tiap interval waterline, Interval tersenbut dibagi 2 bagian yang sama besar sehingga terdapat 3 waterline yang ditinjau pada tiap tabel A.
Data-data yang dimasukkan dalam tabel A adalah sebagai berikut :

y : half breadth pada station dan waterline yang ditinjau
n : faktor momen memanjang kapal ditinjau dari midship
S : faktor simpson memanjang kapal
n’ : faktor momen vertikal ditinjau dari waterline tengah
S’ : faktor simpson vertical
g : panjang kurva bodyplan dari midship s/d waterline yang ditinjau pada setiap station.

III.2 TABEL B
Pada tabel B dilakukan perhitungan berdasar hasil yang didapat dari tabel A.
Perhitungan tersebut adalah sebagai berikut :
LWL = panjang garis air paling atas
B = lebar garis air paling atas
D = tinngi garis air paling atas
s = jarak station
w = jarak tiap waterline
t = tebal pelat

Vol. Disp = 2*(1/3)*(1/3)*s*w*[1]
Disp = 1.025* Vol. Disp
KB = tinggi titik berat volume interval tersebut
= tinggi waterline tengah ([2]*s )/[1])
b = jarak titik berat volume interval tersebut ke belakang midship
= ([3]*s )/[1]
WPA = luas garis air paling atas = 2*(1/3)* s*[4]
Cw = koefisien garis air teratas = WPA/(Lwl*B)
MSA = luas midship station pada interval tersebut = 2*(1/3)*w *[9]
MSA per WL = luas midship station dari 0m WL s/d garis air teratas
Cm = koefisien midship station = MSA per WL /(B*d)
Vol.disp’ = vol disp dari 0 mWL s/d garis air teratas
Cb = koefisien blok = vol disp’/ (Lwl*B*d)

IT = momen inersia melintang garis air teratas
= 2*(1/3)*(1/3)* s*[5]
TBM = IT/ Vol.disp’
Midship F = jarak titik berat luas garis air teratas terhadap midship
= ([16]* s)/[4]
IL = ([7]-([6]2/ [4]))*(2/3)*(s 3)
LBM = IL/ Vol.disp’
WSA = luas permukaan basah pada interval tersebut
= 2*(1/3)*s *[8]
Differrent of WSA = luas permukaan basah dari 0 mWL s/d garis air terbawah
WSA per WL = luas permukaan basah dari 0 mWL s/d garis air teratas
Shell. Disp = volume kulit pada interval tersebut = (1.025/1.000)*t*WSA
Different of shell disp = volume kulit dari 0m WL s/d garis air terbawah
Total shell disp = volume kulit dari 0 mWL s/d garis air teratas.

III.3 TABEL C – TABEL J
Tabel C sampai tabel E1 merupakan tabel perhitungan cant part. Hal-hal yang dihitung secara garis besar sama dengan perhitungan main part.
Tabel E2 merupakan tabel perhitungan data gabungan main part dan cant part untuk WSA, Shell Displacement, WPA, dan midship F.
Tabel F merupakan tabel perhitungan data gabungan main part dan cant part untuk LBM dan TBM.
Tabel g merupakan tabel perhitungan data gabungan main part dan cant part untuk moulded displacement,KB, dan midship B.
Tabel H merupakan data akhir hidrostatic calculation untuk selurauh badan kapal sampai dengan sarat penuh.
Tabel I dan J merupakan tabel data perhitungan Bonjean sampai dengan Upper Deck


Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *